Hikmah dan Rahasia Syariat

Bagian kedua Terjemah Hikmatut Tasyrik wa Falsafatuhu dan Makna Pesantren

Hikmah dan Rahasia Syariat

Pererlu diketahui bahwa semua syariat langit diturunkan untuk empat tujuan utama:

1. Mengenal Allah, mengesakan-Nya, mengagungkan dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan, sifat-sifat yang wajib, mustahil dan boleh.

2. Mengatur tatacara ibadah dan penghambaan sebagai pernyataan pengagungan dan rasa syukur atas segala nikmat-Nya yang tiada terhingga, “Jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitunginya” (Ibrahim: 34)

3. Menyuruh melakukan amar makruf nahi mungkar, menghiasi diri dengan akhlak mulia, dan sifat-sifat yang dapat mengangkat kita ke tingkat kemuliaan, seperti menolong orang-orang yang memubutuhkan bantuan, memuliakan tetangga, menjaga amanah, sabar dan sifat-sifat terpuji lainnya.

4. Mendatangkan hukum dan sangsi-sangsi terkait dengan mu’amalah (yang diabaikan pada era kini), untuk menghentikan berbagai pelanggaran dan penyelewengan, sehingga tercipta rasa aman di tengah masyarakat.

Silahkan tekan gambar, kemudian klik tab baru untuk memperjelas makna 

Hikmah dan Rahasia diutusnya Para Rasul

Tentang hikmah diutusnya para rasul ini, para pemikir dan filosof banyak mengembalikannya kepada pokok-pokok agama. Sementara yang lain memandangnya dengan hawa nafsu sehingga mereka tersesat dan bingung layaknya pencari kayu bakar di malam hari (yang tidak bisa membedakan mana kayu yang pantas diambil dan mana yang tidak. Edt.).

Ada pula yang dibukakan jalan oleh Allah sehingga dapat mengenal hikmah dan rahasianya dengan baik. Di sini, penulis mencoba memaparkan topik ini, dengan memohon pertolongan kepada Allah.



Perlu diketahui bahwa kehidupan dunia ini adalah jembatan menuju kehidupan abadi yang tiada pernah sirna. Tidaklah benar pendapat yang menyatakan bahwa manusia jika sudah mati, segalanya akan berakhir dan tidak akan mengalami kehidupan lagi. Juga tertolaklah paham reinkarnasi yang berpandangan bahwa ruhnya akan menempati tubuh yang lain. Semua orang yang berpandangan seperti ini berada dalam kesesatan dan gelapnya pemahaman.



Jika Anda mencermati dengan akal yang bersih, sehingga akan Anda dapati gerak pada alam dan pergumulan dalam kehidupan ini merupakan bukti nyata bahwa amal perbuatan manusia tidak dibiarka begitu saja, melainkan di baliknya terdapat kehidupan lain dan pengadilan yang akan memberi balasan atas apa yang diperbuat oleh manusia seadil-adilnya.



Kami akan memberikan contoh yang tidak mungkin Anda dapat menyangkalnya (ingkar). Setiap syariat langit dan undang-undang dunia, bahkan semua aliran. Pemahaman yang pernah ada pada setiap masa dan pada setiap tempat menyerukan pentingnya penegakan hukum untuk menegakkan neraca keadilan, memberi sangsi kepada yang zhalim dan melindungi yang terzhalimi.

Coba bayangkan, Andaikan Anda dizhalimi oleh seseorang tetapi orang itu tidak mungkin diadili karena dia menzhalimi Anda dari tempat yang sangat jauh. Atau karena dia penguasa yang Anda sendiri tidak berani mengajukan dan memprosesnya di pengadilan. Kemudian salah seorang dari Anda meninggal, apakah perbuatan tersebut dibiarkan begitu saja? Atau orang yang menzhalimi Anda tersebut harus menerima balasan di pengadilan selain pengadilan dunia agar hak Anda tidak hilang dan kebatilan tidak memamerkan arogansinya terus menerus? Tentu Anda akan menunggu kesempatan yang memungkinkan Anda untuk menuntut pembalasan. Sebaliknya, jika Anda melakukan suatu perbuatan yang merugikan seseorang, ia pun akan membalas perbuatan Anda. Jika ia tidak mampu membalasnya, apakah perbuatan Anda akan berlalu begitu saja? Atau suatu saat nanti Anda akan mendapat balasan yang setimpal?



Dari contoh ini kita menyadari bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan.



Sebelumnya, kami telah menyebutkan bahwa kehidupan dunia ini adalah jembatan menuju kehidupan abadi. Namun kehidupan dunia ini gelap dan berbahaya. Manusia tidak dapat menjalaninya dengan selamat tanpa adanya pembimbing yang mengarahkan langkahnya.

Sebagai Zat Pemilik sifat kesempurnaan, Allah tidak mungkin membiarkan manusia terpenjara dalam kebingungan. Karenanya, harus ada lampu yang menerangi. Lampu itu adalah syariat yang dibawa oleh para rasul, yang diutus untuk membimbing umat manusia agar selamat di dunia dan di alam baka kelak.



Kehidupan dunia yang gelap dan berbahaya ini mempunyai dua cabang : cabang yang pertama penuh dengan liku-liku dan jurang yang mencelakakan, sedang cabang yang satunya lagi tampak mudah dan rata. Sekalipun akal dan fitrah manusia mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi kemampuannya sangat terbatas. Banyak hal yang tidak dapat dijangkau dan tidak mungkin diketahui oleh akal sehingga ia perlu pembimbing. Untuk tujuan itulah para rasul diutus oleh Allah.

Agar lebih jelas lagi, kami akan berupaya memberikan contoh lain. Jika seorang raja menguasai benua lain selain benua yang telah dikuasainya, menurut Anda, apakah penghuninya dibiarkan begitu saja sehingga kekacauan terjadi di mana-mana tanpa ada yang berusaha mengaturnya? Tentu Anda akan mengatakan, harus ada yang mengatur dan mengarahkannya supaya tidak kacau dan supaya jangan sampai ada lagi kerusakan lain yang tidak diinginkan oleh sang raja. Begitu juga dengan kehidupan dunia ini. Allah Sang Maha Pencipta menginginkan manusia sebagai penghuni dunia ini membangunnya dan tidak ingin kehidupan dunia ini rusak dan kacau balau tanpa pengatur dan pembimbing sama sekali.



Untuk kepentingan itulah, Rasul diutus. Ia memberikan rambu-rambu yang harus dipatuhi agar manusia sampai ke negeri akhirat dengan selamat.

Banyak orang berpendapat, lebih baik masalah ini diserahkan saja kepada akal untuk membimbing dan mengarahkannya. Keberadaan Rasul tidak perlu. Pendapat seperti ini bisa dijawab bahwa kemampuan akal sanggatlah terbatas. Akal tidak mampu mengetahui perkara terurgen dalam kehidupan ini. Ia butuh pemandu untuk mengetahuinya dan memahami maksudnya.



Anda telah memahami dengan baik bahwa di balik alam ini ada alam ghaib. Ada kehidupan lain yang disebut dengan akhirat. Jika tentang perkara- perkara yang terlihat dan terdengar saja, banyak yang tidak diketahui oleh manusia, bahkan ada di antaranya yang membingungkan mereka, lalu bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui perkara yang sangat besar, yang akan mengantarkannya ke negeri akhirat?



Sekelompok pemikir dari kota Basrah mengatakan, “Keadilan itu cukup dengan adanya perilaku yang baik dan adanya keteraturan dalam kehidupan ini”. Ketika kami bertanya, lalu siapa yang membuat standar keadilan? Mereka menjawab, “Akal”. Kami jawab, “Ini adalah bukti kebekuan akal yang tidak tahu tentang hakikat sesungguhnya. Sebab tidak semua orang bisa menerima penilaian pemilik akal yang adil terhadap perilaku umat manusia seperti itu.



Andai pun manusia yang berakal seperti ini mencapai derajat malaikat karena kekuatan akalnya, lalu muncul perkara yang tidak dapat ia pecahkan sendiri, yang membuatnya tunduk kepada pihak yang dapat memandunya, harap dijawab, apakah ia tetap tidak membutuhkan pemandu dan pembimbing?

Jika Rasul telah diutus, para pemberi peringatan, para ulama dan pemerintahan dihadirkan. Undang-undang langit dan buatan manusia juga dibuat, lalu umat manusia tetap saja melakukan pelanggaran. Yang kuat menzhalimi yang lemah dan mereka tetap mengerjakan berbagai bentuk kemaksiatan, lebih-lebih jika semua perkara ini diserahkan kepada akal semata. Tentu manusia akan semakin tersesat dan binasa selama-lamanya.



Ada yang mengatakan, “Kalau kemampuan akal terbatas seperti itu, mengapa Allah tidak menciptakan saja suatu kekuatan pada diri manusia melebihi akal yang mampu membimbingnya, sehingga Allah tidak perlu lagi mengutus Rasul ke dunia ini?” Kami jawab, “Sistem yang bekerja pada alam ini menuntut adanya perbedaan berpikir pada umat manusia. Ketika setiap individu memiliki kemampuan luar biasa seperti itu dalam membimbing dirinya, sistem pada alam ini akan kacau dan akan menjadi alam yang berbeda dengan alam yang kita huni saat ini. Juga dengan kemampuan khusus tersebut, manusia akan berbeda dengan tabiatnya yang ada sekarang. Ia akan mirip dengan alam malaikat”.

Dapat pula kami tambahkan di sini, “Bahwa jika demikian adanya, pahala dan hukuman tidak akan ada lagi manfaatnya. Sifat kasih sayang dan pengampunan dari Zat Yang Maha luhur pun tidaklah ada fungsinya sama sekali, sebagaimana tidak adanya realitas kebaikan dan keburukan. Karena keberadaan sifat kasih sayang dapat diketahui melalui adanya perbuatan dosa, kebaikan hanya bisa diketahui melalui adanya kejahatan, gelap dapat diketahui karena adanya cahaya dan terang bisa diketahui melalui adanya kegelapan. Demikian seterusnya.

Kesimpulan, "Jika semua manusia memiliki akal yang sangat cerdas, dunia akan hancur. Sebagaimana kalau semua manusia bodoh, dunia tidak akan seperti yang kita tempati saat ini. Ia telah sirna semenjak masa Adam. Keberadaan Rasul dibutuhkan untuk membimbing manusia ke jalan kebaikan. "Jika Anda telah memahami masalah ini, mari kita mengucapkan "Ya Allah, jadikanlah kami orang yang mendapat petunjuk-Mu, cahaya yang dibawa oleh Rasul al-Amin, dan masukkanlah kami ya Allah ke surga-Mu bersama orang-orang yang dekat kepada Engkau. Amin”



Posting Komentar

0 Komentar